Jumat, 24 April 2009

Tips Pendidkan Anak ala Ust. Yusuf Mansyur



Banyak anak, banyak rejeki. Itulah "ungkapan lama" yang sudah lazim dan sering kita dengar. Namun apakah hal ini selalu berlaku? Menurut Ust. Yusuf Mansyur, hal ini bisa saja terjadi, tapi ada syaratnya. Yaitu sang anak dikenalkan pada Allah.

"Kalau enggak gimana Allah mau tambahin rizki kita?" ujar ustadz yang dalam ceramahnya selalu menekankan pentingnya sedekah dan berbagi. Beliau bahkan berencana ingin punya 7 anak. "Kalau kita cuma berdua, rizkinya cuma buat berdua. Tapi kalau bertiga, maka rizkinya buat bertiga. Jadi jatahnya beda." urai beliau menambahkan.

[Wah tapi, kalau harus punya banyak anak kayaknya ayah bunda belum siap secara mental, mungkin planningnya dua anak dulu kali ya? he he Kasihan ma bunda kalo sering-sering ngelahirin... Tapi jika Allah kasih lebih ya nggak papa, nggak mama deh... Kan anak adalah amanat dari Allah...]
1. Cara mengenalkan anak kepada Allah
"Bukan dengan jalan menyuruh-nyuruh (memaksa-red). Misalnya, jika kita ingin anak shalat, kita sediakan dulu perlengkapannya, seperti mukena. Enggak harus komplet, kasih bagian kepalanya dulu. Nanti kan, si anak akan tanya "Mana roknya?". Nah dengan si anak bertanya, maka secara tidak langsung akan tumbuh sikap tanggung jawab dan sadar untuk sholat tanpa disuruh-suruh. Selain itu, ajak anak ke pengajian. Jadi ditanamkan sejak dini, agar nanti besarnya enggak susah".

[Sippp... cara yang jitu, memang terkadang orang tua sering memerintah (memaksa-red) untuk sholat, malah ada yang dengan volume suara tinggi (bentakan-red). Ada anggapan anak bakal nurut jika dibentak. Padahal dengan bentakan si anak akan merasa takut, dan nyalinya ciut. Hal ini tidak baik untuk perkembangan jiwanya. Intinya ketika mendidik, orangtua juga harus memberi pengertian kepada si anak, kenapa si anak harus melakukan ini dan itu.]

2. Disiplin, tapi nggak kaku
“Memang anak perlu dididik untuk disiplin tapi bersikaplah fleksibel dalam menerapkan aturan. Misalnya, ada jam-jam yang harus mereka taati seperti tidur, makan, dan main. Kalau tidak disiplin, nanti anak jadi ngaco. Namun peraturan itu juga harus bijak. Kalau ada sepupunya yang sedang main di rumah, bolehlah enggak tidur siang, misalnya. Jadi fleksibel saja.”

[Kelonggaran memang terkadang diprlukan, jika suatu saat orangtua memberikan kelonggaran dengan menambah jam bermain pada anak, maka jelaskanlah pada si anak, bahwa kelonggaran itu adalah reward baginya, karena dia telah berlaku baik. Hal ini agar tidak menimbulkan kebingungan pada si anak, kenapa terkadang orang tuanya longgar tapi di lain waktu "kenceng".]

3. Mengajar Konsep Sedekah kepada Anak
Kepada anak-anaknya, Ust Yusuf mengajarkan konsep sedekah dengan cara berbagi. Contoh, ada 4 anak dan masing-masing diberi makanan; ada yang dapat pisang, jeruk, apel, dan roti. Bila mereka makan sendiri-sendiri, maka mereka hanya merasakan satu jenis buah yang dipunyai saja. Tapi kalau masing-masing diminta membagi makanannya jadi 4 dan kemudian saling berbagi, maka masing-masing bisa merasakan 4 jenis makanan yang berbeda.
[Good idea, bisa menumbuhkan jiwa sosial si anak.]

4. Pengawasan dan Doa
Untuk membekali diri anak agar terhindar dari pengaruh lingkungan buruk sebetulnya standar saja, yaitu pengawasan orangtua dan doa. Lakukan persiapannya sejak anak masih di kandungan, dengan sering mengajaknya bicara. “Saya suka nyiumin perut istri dan saya bilang sama anak saya, kamu nanti kalau keluar jangan nyusahin, ya. Pokoknya, saya ngomong apa ajalah soal kehidupan. Lalu, kita bacakan dia Quran dan kita banyak mendoakan supaya jadi anak yang baik. Karena doa itu memainkan peranan penting. Nabi Ibrahim saja masih berdoa supaya anaknya jadi anak yang rajin salat.”

5. Tiga Kunci Agar Anak Selamat
Pertama
, orangtua harus memberikan rezeki yang aman dan halal buat anaknya. "Jika tidak halal, maka di-protect kayak bagaimana pun, anak bisa enggak selamat. Sebab, jika rizki yang diberikan sudah halal, Insya Allah, Allah akan melibatkan diri-Nya untuk melindungi anak kita."


Kedua, anak perlu uswatun khasanah, yaitu contoh dan teladan yang baik dari kedua orangtuanya. Jika anak tidak punya contoh yang baik, misal, ayah-ibu sering bertengkar, bagaimana mau memberitahu si anak? Seperti apa pun orangtua memberitahu anak, sampai budek pun si anak enggak mau dengarkan orangtua.

Ketiga, doa. Libatkan selalu Allah dalam setiap tahapan mendidik anak. Kita sebagai manusia janganlah sombong. Kala anak pamit keluar rumah, contohnya, kita sebagai orangtua tidak bisa tahu dan melihat apa yang anak lakukan di luar rumah. Tapi Allah Maha Melihat dan Tahu. Maka itu, kita berdoa menitipkan anak kita pada Allah dengan memohonkan keselamatannya. Jika kita berdoa, masa Allah tidak akan melindungi? Iya, kan!



Jumat, 17 April 2009

Tips Mendisiplinkan Anak ala Cak Munif Chatib

Kedisiplinan pada dasarnya adalah daya tahan atau KELANGGENGAN sebuah peraturan di jalankan oleh anak kita. Sedangkan peraturan tersebut dapat berupa instruksi lisan atau tertulis.

Banyak orangtua yang merasa puas dan merasa berhasil mendisiplinkan anaknya jika anaknya sudah ‘KETAKUTAN’, ‘menurut’ dan melaksanakan semua peraturan yang sudah diberlakukan oleh orangtua. Anak yang ketakutan dan menjadi penurut apa yang diperintahkan oleh orangtua memang masih menjadi indikator keberhasilan disiplin.

Namun apa benar demikian?

Coba bandingkan dua kondisi di bawah ini.

Kondisi pertama, sebut saja si Iza, seorang putri cantik sekolah di TK yang centil, Iza diperingati oleh mamanya dengan cara yang keras, penuh tekanan dan ancaman untuk tidak membeli makanan (jajan) di sekolah sebab tidak sehat. Dengan penuh ketakutan Iza mengangguk-angguk tanda setuju terhadap peraturan tersebut. Sampai detik terakhir berpisah, sang mama tersebut sempat memberi peringatan disiplin kepada anaknya. “Inget lho pesen mama ya…jangan jajan, awas kalo ketahuan, mama hukum nanti.” Apa yang terjadi ketika Iza sudah di sekolah dan melihat teman-temannya ramai-ramai membeli jajan. Iza ragu-ragu untuk mendekat. Takut ancaman dari mamanya. Tiba-tiba seorang temannya mengajak Iza untuk ikut membeli jajan. Spontan Iza menolak. “Gak boleh ama mama.” Si teman tidak mau kalah. “Mamamu kan gak ada sekarang, jadi gak mungkin tahu, ayo … enak lho jajannya!” Iza langsung menoleh ke kanan ke kiri, begitu dia yakin mamanya tidak ada di sekitarnya, maka dengan senyum bahagia Iza menuruti temannya untuk membeli jajan yang telah dilarang oleh mamanya. Dalam kondisi seperti Iza rapuh dalam kedisiplinannya. Iza masih DAPAT DIPENGARUHI OLEH LINGKUNGANNYA. Disiplin seperti ini adalah disiplin yang tidak berhasil.

Kondisi kedua, Ela didudukkan dengan manis oleh mamanya, dan diberitahu kalau jajan di luar itu tidak sehat. Jenis-jenis jajanan yang tidak sehat juga diberitahukan oleh sang mama, bahkan ditulis atau ditunjukkan bungkus makanannya. Lalu Ela mendapat informasi juga dari mamanya kenapa makanan/jajan ini tidak sehat. Sang mama memberitahu juga akibat ekstrem apabila anak-anak sering makan jajanan tersebut. Penyakit yang mungkin timbul, penderitaan anak pada saat sakit, kesulitan orangtua pada saat anaknya sakit, dan lain-lain. Bahasa yang disampaikan kepada anak juga lembut, santun dan sangat informatif. Tidak ada paksaan dan dilakukan dalam kondisi si anak santai atau dalam kondisi ‘alfa’. Apa yang terjadi pada saat Ela berada di sekolahnya dan teman-temannya merayu Ela untuk jajan yang sudah di larang oleh mamanya. Ela dengan santainya menjawab, “Aku gak boleh jajan itu ama mamaku, sebab kata mamaku jajanan itu gak sehat, bisa sakit, aku sudah diceritain susahnya kalo sakit, ihhh sedih gitu. Kamu juga kalo bisa gak usah beli jajanan itu. Kalo jajanan yang ada di kantin sekolah itu baru sehat. Kalo di luar ini tidak sehat.” Lalu beberapa teman Ela melongo, mengangguk-angguk dan mengikuti nasihat Ela. Dalam kondisi seperti ini Ela MAMPU MEWARNAI LINGKUNGANNYA dengan kedisiplinannya. Dan disiplin inilah yang berhasil.

Dua macam keberhasilan disiplin

Ada dua macam keberhasilan disiplin, yaitu:

1. Disiplin SEMENTARA

Yaitu upaya disiplin yang mempunyai rentan waktu sementara, setelah itu disiplin akan hilang. Kasus Iza adalah termasuk disiplin sementara. Iza berjanji akan menuruti perintah orangtuanya pada saat keberadaan orangtuanya ada di sekitarnya. Begitu di luar itu, disiplin akan hilang. Penyebab disiplin sementara ini antara lain:

a. Model pemberian peraturan kepada anak yang salah.

  • Anak usia golden age (0 sampai 7 tahun) model pemberian aturannya dengan learning by doing dan learning by example. Artinya anak belajar disiplin dengan cara melihat perilaku orangtuanya dan mengambil contoh atau teladan dari orangtuanya. Apabila dua hal penting ini tidak sesuai dengan apa yang sudah menjadi peraturan anak, maka secara otomatis anak akan menghindari kedisiplinan.
  • Anak usia 8 tahun ke atas, peraturan dibuat dalam model-model peraturan tertulis, lisan dengan berbagai macam format yang sangat luwes.

b. Cara pemberlakukan peraturan kepada anak yang salah.

  • Cara pemberlakuan disiplin yang terlalu bebas, akan mengakibatkan kekuatan peraturan untuk ditaati menjadi lemah. Peraturan yang sudah dibuat sama sekali tidak efektif. Anak tidak akan menghargai peraturan apapun yang berasal dariu orangtuanya dan orang lain.
  • Cara pemberlakuan disiplin yang terlalu keras dan kaku, juga akan berdampak negatif pada anak. Perasaan tertekan, takut, anak mudah kehilangan kepercayaan diri, tidak punya peluang untuk tumbuh dan berkembang, kepribadian, emosi, akhlak dan rasa kemanusiaannya niscaya tidak akan terbentuk. Selain itu potensi dan bakatnya tidak akan muncul.
  • Cara pemberlakukan disiplin yang seimbang. Anak diberi pendahuluan pengetahuan kenapa harus ada peraturan yang dimaksud. Peraturan hanya membatasi dan mengatur kebebasan anak. Anak diberi kesempatan untuk menentukan pilihan-pilihan. Dengan disiplin yang seimbang ini, maka anak akan tumbuh menajdi pribadi yang berkembang, bertanggung jawab, menghargai orang lain dan mempunyai kepercayaan diri yang tinggi.

c. Tidak adanya apresiasi ketika disiplin tersebut telah dijalankan oleh anak.

  • Setiap anak yang melakukan upaya disiplin seyogyanya orangtuanya memperhatikan hal itu dan memberikan respon berupa apresiasi.
  • Apresiasi dapat berupa pujian terhadap perbuatan disiplinnya, sentuhan emosi positif, seperti memeluk, mencium, mengusap rambut dan lain-lain.

2. Disiplin PERMANEN

Yaitu upaya disiplin yang mempunyai rentan waktu relatif panjang. Kasus Ela adalah disiplin yang permanen. Disiplin inilah yang berhasil. Anak mempunyai kedisiplinan internal dalam dirinya. Bahkan mampu menjelaskan kenapa harus disiplin dan mampu menarik orang lain untuk juga melakukan upaya disiplin

Nah … para orangtua, seyogyanya kita semua dapat melihat atau melakukan cek, apakah disiplin yang kita terapkan kepada anak kita termasuk yang SEMENTARA atau TETAP. Perilaku kita sebagai orangtua dalam menerapkan disiplin kepada anak ternyata menjadi kunci utamanya. Semoga menajdi pengetahuan yang berguna.

Kamis, 16 April 2009

[Resesnsi Buku] Sebelum Anda Mengambil Keputusan Besar Itu



PERSIAPAN MENUJU PERNIKAHAN

Minimal ada 4 hal yang harus dimiliki oleh seseorang ketika ia ingin memasuki gerbang pernikahan:
1Kesiapan Pemikiran
2Kesiapan Psikologis
3Persiapan Fisik
4Persiapan Finansial

KESIAPAN PEMIKIRAN

1mempunyai kematangan visi keislaman
2mempunyai kematangan visi kepribadian
3mempunyai kematangan visi pekerjaan

KEMATANGAN VISI KEISLAMAN

Artinya, mempunyai dasar-dasar pemikiran yang jelas tentang identitas ideologinya.
Artinya, mengetahui MENGAPA ia menjadi muslim

“Di dalam hidup ini, kita akan sesekali menghadapi banyak alternatif. Saat itu, kita akan banyak menghadapi masalah yang pemecahannya sangat ditentukan oleh kematangan pengetahuan tentang MENGAPA kita menjadi muslim, sehingga kita mampu dihadapkan pada berbagai pilihan dalam kehidupan riil.”

KEMATANGAN VISI KEPRIBADIAN

Artinya, mempunyai konsep diri yang jelas
Artinya, mengetahui apa kelemahan dan kekuatannya, apa ancaman yang bisa meruntuhkan dirinya, tahu peluang berdasarkan potensi yang ada dalam dirinya.

“Pemahaman diri yang benar tentang diri sendiri akan melahirkan penerimaan diri yang baik. Membuat kita menerima diri secara apa adanya. Tidak menganggap diri kita melebihi kapasitasnya atau kurang dari kapasitasnya.”

“Saya sarankan pada Anda yang belum menikah, bahwa ketika kita mencari pasangan, jangan pernah bermimpi mencari pasangan yang ideal, tapi carilah PASANGAN YANG TEPAT.”

“Kita tidak sedang berpikir mencari istri atau suami yang unggul. Carilah istri yang tepat dengan bingkai kita, dengan kepribadian kita.”

“Sebab ternyata,
tidak semua orang cerdas membutuhkan orang yang cerdas lain,
tidak semua orang gagah membutuhkan wanita cantik,
tidak semua orang hebat membutuhkan orang hebat.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh banyak orang, menemukan bahwa kebanyakan orang besar dalam sejarah, ternyata memiliki pasangan yang bersahaja dan sangat sederhana.”

Kalau kita mampu menerima diri kita dengan baik, setelah menikah pada umumnya kita juga mampu menerima pasangan kita dengan baik.

INGAT!!!!
Bukan istri atau suami yang unggul.
Tapi,
Istri atau suami yang TEPAT.

KEMATANGAN VISI PEKERJAAN

Yusuf Qardhawi: “Pertama ada ilmu lalu iman. Ilmu menghasilkan iman. Iman menghasilkan kekhusyukan. Inilah yang menggerakkan hati untuk beramal.”

Ilmu yang terkait dengan perkawinan:
1hak dan kewajiban suami-istri
2masalah pendidikan (anak)
3masalah kesehatan
4masalah seksual

KESIAPAN PSIKOLOGIS

Artinya, kematangn tertentu secara psikis untuk menghadapi berbagai tantangan besar dalam hidup, untuk menghadapi tanggung jawab, untuk menghadapai masa-masa kemandirian.

“Kesiapan psikologis pada keseimbangan emosi di dalam jiwa kita. Ambivalensi dari rasa takut dan rasa berani. Ambivalensi dari rasa cinta dan benci. Ambivalensi antara harapan dan realisme.”

Paling sering kita alami dalam pernikahan adalah fluktuasi emosi yang cepat ketimbang saat kita masih bujang.

Sebagai istri, kata Rasulullah, kalau dilihat suaminya, ia menggembirakan. Seorang istri membutuhkan kemampuan psikologis luar biasa untuk setiap saat mampu melakukan 3 pekerjaan sekaligus: SEKRETARIS, RESEPSIONIS, PRAMUGARI.

KEMATANGAN FISIK

Kematangan fisik menjadi persyaratan mutlak dalam sebuah perkawinan

(komentar Diana nih: kadang pa Anis Matta tuh bombastis, tapi gerrr juga jadinya : ), lihat nih pernyataan beliau di bawah ini)
“Fisik yang perlu kita perhatikan bukan berarti harus membuat orang tertarik. Cukuplah bila tidak membuat orang lari ketika melihat kita.”

Olahraga yang dianjurkan dalam Islam: menunggang kuda (kekuatan), berenang (kecepatan), dan memanah (kejelian).

KESIAPAN FINANSIAL

Artinya, perkawinan juga kerja ekonomi, bukan sekedar kerja cinta.

“Seorang wanita juga perlu mempertanyakan kepada calon suaminya tentang masalah finansial. Tidak berarti bahwa wanita itu materialistis. Tidak demikian. Seorang wanita perlu yakin bahwa suami yang mampu mengatakan I Love You 1000x sehari juga bisa memberikan susu bagi anak-anaknya. Paling bagus, beri susu buat anak-anak, nafkah buat istri, lalu katakan I Love You. Anda bisa memberikan susu, tapi tidak mengatakan I Love You, itu juga salah. Dua-duanya perlu.”

“Kita harus melihat sesuatu dengan rasional. Unsur Romantika sangat penting ada karena akan membuat hidup jadi indah. Romantika yang bagus dibangun di atas Realisme. Realisme tapi juga Romantis. Realistis tapi tidak Romantis, jadi kaku.”
(komentar Diana: pa Anis Matta ini, dalam catatan di kepalaku, masuk sebagai yang nomor dua dalam daftar suami-suami romantis : ), yang nomor satunya Aa Gym. Bapakku sendiri memang bukan yang tipe romantis, walaupun beliau baik banget. Semoga kelak suamiku adalah suami romantis, kalau pun engga, ntar akan di-training intensive hihi.. ^_^)

MENJALIN KEHARMONISAN

Perasaan ibadah melekat di dalam pikiran setiap orang yang ada di dalam rumah itu, sehingga misi kemudian membentuk satu muatan bahwa setiap anggota rumah adalah orang yang berjalan menuju Allah SWT.

Dengan nuansa ibadah, kita akan menemukan pengorbanan. Semua keringat yang keluar adalah sumber utama kenikmatan di dalam hidup, suatu kegembiraan jiwa.

Agar mampu membangun keharmonisan, setiap orang haruslah memiliki kemampuan ntuk memahami orang lain. Anda tidak mungkin mampu memahami orang lain dengan baik, kecuali jika Anda telah lebih mampu memahami Anda sendiri.

Sebenarnya struktur kejiwaan manusia memiliki berbagai kesamaan. Apa yang menggembirakan kita pada umumnya juga menggembirakan orang lain.

Kemampuan MENCINTAI dengan arti bahwa Anda menerima orang lain apa adanya, menerima secara utuh dengan segala kelebihan dan kekurangannya, kekuatan dan kelemahannya.

Pada tingkat berikutnya, kita menginginkan kebaikan bagi orang itu. Apapun yang kita lakukan, selalu berorientasi agar orang menjadi lebih baik.

Memberikan waktu kita bagi orang lain. Perhatian dan keinginan yang lebih banyak untuk membahagiakan. Kemampuan MEMPERHATIKAN merupakan kemampuan jiwa yang luar biasa besarnya.

Berbagai teknik berhubungan, muncul dari kemampuan dasar. Kemampuan memperhatikan, memahami, mencintai, mengembangkan diri, dst. Untuk memiliki kemampuan dasar, ketrampilan utamanya adalah KETRAMPILAN KOMUNIKASI. Ketrampilan ini lahir dari pengetahuan kita tentang jiwa manusia.

Perasaan kita tentang orang lain, diungkap setiap saat, baik suka pun tidak suka. Nyatakan cinta Anda dengan tindakan dan kata-kata. Bahkan pujian sekalipun, jelas kita semua sedang beribadah. Kelelahan akan berkurang kalau kita mendengar berita gembira, artinya, sebelum mendapatkan di surga, sebaiknya kita mendapatkan di dunia.

Rasulullah mengajak kita unytuk memenuhi rumah dengan panggilan yang indah dan kalimat-kalimat yang baik.

“Setelah saya renungi, mengapa Islam perlu menyatakan secara verbal, hikmah yang saya temukan adalah ternyata setiap kita membutuhkan penguatan dari waktu ke waktu.”

Yang penting bagi kita mulanya, bukan mencari pasangan yang baik, tetapi berusaha untuk menjadi pasangan yang baik.

PENUTUP

Selain keterarahan, keharmonisan, konsistensi dan berbagai sarana fisik, jangan lupakan misi sebuah rumah tangga Islami.

Keluarga dimulai dari 2 orang yang bertemu menjadi suami-istri, kemudian bertambah anggotanya dengan anak-anak yang lahir. Keluarga ini harus mengupayakan agar setiap anggota memiliki misi yang sama.

Bila misi yang sama telah tertanam di dada, maka setiap orang yang ada di keluarga itu akan merasakan bahwa rumah tangga ini hanyalah satu perahu dari sekian banyak perahu yang berlayar menuju Allah SWT.


Judul Buku: Sebelum Anda Mengambil Keputusan Besar Itu
Penulis: H.M. Anis Matta, Lc
Penerbit: Syamil, Maret 2003

Selasa, 10 Februari 2009

Ikan, Laron, dan Semut dan Pelajaran Tauhid


Tak perlu banyak bicara untuk mengajarkan tauhid pada anak. Anak-anak (terutama usia 0-7 tahun) akan mudah terstimulus akan musik dan lagu. Mereka akan sangat mudah menyerap apa yang didengar. Hafalan huruf hijaiyah, nama-nama nabi, dan nama-nama malaikatpun akan jadi mudah, ketika diajarkan dalam bentuk nyanyian. Nah, parahnya jika yang didengarkan adalah lagu-lagu yang seharusnya belum patut mereka dengarkan.

Pernah ayah dengarkan anak tetangga, di tengah kegiatannya bermain ia melantunkan sepenggal lagu "cinta ini... membunuhku...". Masya Allah, aduh nak, apakah kau tahu apa yang sedang kau ucapkan?

Faktanya saat ini memang susah sekali dicari lagu-lagu yang khusus diperuntukkan bagi anak-anak. Karena industri musik di Indonesia hanya berorientasi pada pasar, yang sebagian besar peminatnya adalah remaja. Dan memang jumlah penduduk Indonesia saat ini didominasi oleh kalangan kawula muda.

Sebenarnya kalau insan industri musik mau melirik anak-anak, pun sejatinya mereka adalah pasar yang potensial. Tapi tak mudah menciptakan lagu anak-anak, apalagi yang bermuatan edukatif. Ada memang beberapa pencipta lagu anak, tapi mereka belum cukup pede untuk menampilkan hasil karyanya, takut ndak laku mungkin.

Loh, kok malah ngomong yang nggak jelas gini sih, kok nggak nyambung dengan judulnya. Oke deh kembali ke jalan yang benar.

Tapi masih terkait dengan lagu, ada lagu yang sarat muatan edukatif. Dilantunkan oleh grup nasyid dari Jogja, Fatih. Ada pelajaran tauhidnya, simak aja liriknya di bawah ini....


Ikan Laron Semut

Aku senang aku senang
Tapi bingung aku bingung
Aku senang aku senang
Tapi heran aku heran

Dan akupun bertanya
Pada semua ikan di kolam
Tidakkah kau mrasa bosan di situ
Dan dia pun menjawab
Tiada bosan walau berada di tempat sekecil ini
Karna ku di sini
Setiap hari
Bersama Tuhanku

Dan akupun bertanya
Pada laron-laron beterbangan
Buat apa kau hidup semalan
Dan dia pun menjawab
Tiada tersia walau hanya smalam aku hidup di dunia
Karna dalam semalam aku hidup
kusebut Tuhanku

Dan akupun bertanya
Pada semut-semut di sarangnya
Tidakkah kau mrasa lelah bekerja
Dan dia pun menjawab
Tiada lelah walau spanjang hidup aku terus bekerja
Karna setiap saat
Dalam bekerja
Bersama Tuhanku

Dan aku bertanya pada hatiku
Sejauh apa hidup tanpa Tuhanmu
Dan aku bertanya pada jiwaku
Selama apa hidup tanpa Tuhanmu
Dan aku bertanya pada diriku
Sekeras apa kerja tanpa Tuhanmu

Pengen tahu lagunya? Silakan download, klik disini




Mengajarkan Tahfizh Quran untuk anak-anak (usia 6-8 tahun)

Oleh : H. Taufik Hamim Effendi, Lc., MA.

Dalam menanamkan akidah, ilmu pengetahuan agama dan tentunya pengajaran Al-Quran, hendaknya kita mulia mengajarkan anak-anak kita sejak mereka masih berusia dini. Karena pada usia ini selain sangat berpengaruh terhadap perkembangan otak dan memori anak-anak yang masih polos, juga mereka bagaikan kaset kosong yang siap diisi oleh apa saja, apapun yang didengar sang anak pasti akan terekam dalam memorinya. Oleh karena itu seoptimal mungkin kita perdengarkan kepada buah hati kita bacaan Al-Quran, baik kita langsung yang membacanya atau dengan menggunakan kaset atau semacamnya.

Cara ini pula yang pernah dilakukan oleh para shahabat dan telah menjadi tradisi mereka dalam mengajarkan Al-Quran kepada anak-anak mereka. Mereka memilki perhatian yang sangat tinggi dalam mengajarkan Al-Quran. Demikian pula para tabi’in dan orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai kiamat kelak. Sehingga kalau kita membaca kitab-kitab klasik yang berbahasa Arab, banyak riwayat yang bercerita tentang suksesnya para ulama dalam menghafalkan Al-Quran di usia sebelum mencapai sepuluh tahun. Sebut saja Imam Syafi’i, peletak Madzhab Asy-Sayfi’iyyah, beliau berhasil menghafal Al-Quran 30 juz diusia 7 tahun. Imam Suyuthi, penyusun beberapa kitab, diataranya tafsir jalalain dan tafsir Al-Durrul mantsur, belum genap delapan tahun usianya, beliau telah sukses menghafal Al-Quran 30 juz.

Dalam mengajarkan anak di usia 6 -8 tahunan, kami melihat ada beberapa metode atau cara yang bisa diterapkan :

Pertaman kali yang harus kita fahami adalah bahwa anak-anak seusia ini lebih suka mendapatkan pujian, reward, hadiah, iming-iming atau apalah namanya. Yang jelas mereka sangat menyukai bila selesai mengerjakan tugas, ada yang langsung mereka peroleh. Ini akan jauh lebih baik bila dibandingkan dengan pendekatan ancaman atau pukulan bila sianak tidak mau atau tidak mencapai target tertentu dalam menghafal Al-Quran.

Berikan mereka hadiah apa saja, dan hadiah itu tidak harus yang mahal harganya. Yang penting bentuk perhatian dari seorang guru atau mungkin juga orang tuanya. Memang kalau ada cukup rezeki, baik sekali kalau hadiah yang diberikan kepada sang anak berkaitan erat dengan program tahfizh Al-Quran, walaupun harganya agak sedikit mahal. Seperti Al-Quran digital, MP4 atau ada juga HP yang berisikan tilawah Al-Quran 30 juz. Tentunya ini akan membuat anak akan lebih bersemangat lagi dalam belajar dan menghafal Al-Quran.

Kedua yang harus diperhatikan oleh seorang guru atau orang tua yang mengajarkan anaknya adalah agar selalu memuji dan menyanjung sang anak atas keberhasilan mereka dalam menyelesaikan tugas atau telah mencapai target tertentu dalam menghafal Al-Quran. Jadi, kita harus berlaku adil terhadap si anak. Jangan ketika dia melakukan kesalahan, tidak mencapai target, kita selalu menyalahkannya dan membuat dia berputus asa dan akhirnya mengakibatkan sang anak tidak lagi mau menghafal. Jadi harus lebih diperhatikan bagaimana sang anak tersebut selalu senang dalam proses menghafal.

Ketiga yang juga tidak kalah pentingnya adalah menciptakan suasana belajar atau menghafal yang menyenangkan dan senyaman mungkin. Sehingga anak akan merasakan mudah dan nikmatnya menghafal Al-Quran. Jangan sekali-kali ada kesan memaksa dan menekan anak untuk menghafal Al-Quran. Karena bila hal ini dilakukan bukan saja dia tidak mau menghafal, bisa jadi dia juga nantinya akan benci dan trauma kalau disuruh untuk menghafal Al-Quran.

Keempat, usahakan sebelum mulai menghafal, seorang guru atau orang tua yang mengajarkannya bercerita secara ringkas tentang isi ayat atau surat yang akan dihafal. Karena dengan demikian dia akan menjadi lebih tertarik dan termotivasi untuk menghafal. Dia ingin sekali menghafal ayat atau surat yang bercerita tentang kisah-kisah tertentu di dalam Al-Quran.

Kelima, mungkin ini juga tidak kalah pentingnya untuk merangsang anak dalam menghafal Al-Quran. Buat gambar-gambar yang berkaitan erat denga ayat atau surat yang akan dihafal. Sehingga mereka akan dapat membayangkan kejadian atau peristiwa apa saja yang terjadi.

Keenam, memilih guru yang yang memliki kapasitas cukup. Ya idealnya guru tersebut sudah hafal 30 juz. Ini pula yang pernah dilakukan oleh khalifah Harun Al-Rasyid. Dia memanggil seorang guru yang alim, shalih, hafal Al-Quran dan banyak menghafal hadits dan disiplin ilmu agama lainnya, untuk mengajarkan anaknya.

Seorang guru harus berpenampilan menarik, menyenangkan. Guru tidak saja dituntut untuk memiliki kamampuan hafal dan membaca Al-Quran dengan baik, motivasi yang tinggi, akrab dengan anak-anak, tetapi juga harus memenuhi kriteria tambahan lain, seperti kreatif, inovatif dan mau duduk dan bermain bersama anak-anak.

Semoga penjelasan singkat ini dapat memberikan pencerahan kepada kita sebagai orang tua atau sebagai seorang guru Al-Quran. Sehingga harapan mulia agar anak-anak kita dapat menghafal Al-Quran bisa terwujud. Amin ya Rabbal ‘alamin

Minggu, 08 Februari 2009

Mencegah Penyimpangan Seksual pada Anak

Terkait masalah tarbiyatul aulad (pendidikan anak), salah satu poin yang menjadi amanat orangtua atas anaknya adalah memperhatikan tumbuh kembangnya. Pada masa kanak-kanak, pertumbuhan dan perkembangan merupakan sesuatu yang sangat vital. Pertumbuhan itu menyangkut pertumbuhan organ fisik, psikologis dan sosialisasi atau interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Pada masa ini hendaklah para orang tua memberikan bimbingan dan pengarahan tak terkecuali di dalamnya masalah seksual.

Dalam hal ini Islam telah memberikan pedoman-pedomannya. Islam sebagai sistem ajaran yang komprehensif telah memberikan pedoman kepada para pemeluknya, tak terkecuali masalah seksual. Pelanggaran dan ketidaktaatan terhadap aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah dan RasulNya akan menyebabkan kehancuran peradaban manusia. Sebut saja, kaum nabi luth, yang melakukan penyimpangan berupa homoseksual. Perilaku menyimpang yang juga disebut dengan istilah Liwath ini dikisahkan dalam Al-Qur'an QS. Al-A'raf: 80-83 yang akhirnya mereka dibinasakan oleh Allah SWT.

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: ’Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?’ Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: ’Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri.’ Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan)”. (QS. Al-A’raf: 80-83).

Homoseksual sangatlah bertentangan dengan fitrah manusia, karena dalam Islam Hubungan seksual tidak hanya sekadar untuk memuaskan hawa nafsu semata, tetapi memiliki tujuan penting menyangkut kelangsungan kehidupan, yaitu untuk melanjutkan keturunan. Dengan demikian, hubungan seks sejenis jelas tidak dibenarkan karena tidak mungkin akan menghasilkan keturunan. Agar perilaku seksual menyimpang ini tidak berkembang, maka harus dilakukan pencegahan sedini mungkin. Dan Islam telah memberikan beberapa alternatif pencegahannya.

Langkah-Langkah Pencegahan

1. Menjauhkan anak dari berbagai rangsangan

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Pada diri manusia terdapat potensi (dorongan) hidup yang senantiasa mendorong untuk melakukan kegiatan dan menuntut pemuasan. Pertama yang disebut dengan kebutuhan jasmani (hajatu al-’udhawiyah) seperti makan, minum, dan membuang hajat. Kebutuhan ini menuntut pemenuhan yang bersifat pasti. Kalau tidak terpenuhi, seseorang akan mati. Tidak ada orang yang kuat terus menerus menahan lapar dan haus, begitu pula buang hajat. Kedua, adalah naluri (gharizah) yang menuntut adanya pemenuhan saja. Jika tidak dipenuhi, manusia tidak akan mati, tapi akan merasa gelisah, hingga terpenuhinya kebutuhan tersebut. Salah satu bentuk naluri (gharizah) adalah naluri mempertahankan jenis (gharizah an-nau’) yang manifestasinya bisa berupa dorongan seksual. Dari segi munculnya dorongan (tuntutan pemuasan), kebutuhan jasmani bersifat internal, yakni muncul dari dalam diri manusia sendiri. Orang ingin makan karena lapar, ingin minum karena haus, ada atau tidak ada makanan. Sementara naluri baru akan muncul kalau ada rangsangan-rangsangan dari luar. Dorongan seksual muncul misalnya setelah melihat atau membayangkan wanita yang cantik, membaca buku, nonton film dan sebagainya.

Demikian juga hasrat untuk melakukan homoseksual akan muncul bila terdapat rangsangan-rangsangan yang mendorong untuk mencoba atau melakukannya. Ada dua rangsangan yang umumnya merangsang manusia, yaitu pikiran dan realitas yang nampak. Pemikiran liberali telah mendorong orang untuk mencoba melakukan homoseks. Menurut paham ini, orang bebas melakukan apa saja termasuk dalam memenuhi dorongan seksualnya. Tolok ukurnya pun bersifat materialistik. Karenanya, aktivitas homoseksual ditempatkan sebatas sebagai cara memuaskan hasrat seksual. Padahal, dalam Islam, seksualitas merupakan nikmat Allah SWT untuk melanjutkan keturunan. Selain itu, alasan hak asasi manusia (HAM) sering kali dijadikan sebagai dalih. Selama pemikiran-pemikiran ini terus dikembangkan di tengah masyarakat atas nama kebebasan pribadi dan berekspresi, maka penyimpangan seksual tersebut akan tetap ada.

Islam adalah agama yang sempurna. Di dalamnya terdapat aturan-aturan tentang bagaimana seharusnya manusia memenuhi kebutuhan jasmani dan naluri-naluri yang ada pada dirinya. Allah SWT telah menganugerahkan potensi-potensi tersebut sekaligus cara-cara pemenuhannya. Aturan-aturan ini dibuat tidak lain adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri. Allah yang menciptakan manusia, Dia pula yang paling tahu apa yang terbaik bagi hambaNya. Karena dorongan seksual ini baru akan muncul jika ada rangsangan dari luar, maka Islam telah memberi seperangkat pemahaman yang dapat mengatur kecenderungan seksual manusia secara positip, yaitu dengan seperangkat aturan dalam urusan pernikahan dan segala sesuatu yang terpancar darinya. Islam juga berusaha mencegah dan menjauhkan manusia dari segala hal yang bisa membangkitkan perasaan seksualnya.

2. Menguatkan identitas diri sebagai anak laki-laki atau perempuan

Telah ditentukan oleh Allah, bahwa segala sesuatu diciptakan secara berpasang-pasangan. Allah telah menciptakan malam, maka diiringi dengan siang. Begitu pula diciptakan laki-laki oleh Allah sebagai pasangan wanita.

Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.

Dan Allah menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan).

Secara fisik maupun psikis, laki-laki dan perempuan mempunyai perbedaan yang mendasar. Perbedaan tersebut telah diciptakan sedemikian rupa oleh Allah. Adanya perbedaan ini bukan untuk saling merendahkan, namun semata-mata karena fungsi yang kelak akan diperankannya. Mengingat perbedaan tersebut, maka Islam telah memberikan tuntunan agar masing-masing fitrah yang telah ada tetap terjaga. Islam menghendaki agar laki-laki memiliki kepribadian maskulin, dan perempuan memiliki kepribadian feminin. Islam tidak menghendaki wanita menyerupai laki-laki, begitu juga sebaliknya. Pola asuh orang tua dan stimulasi yang diberikan, memiliki peran yang besar dalam memperkuat identitas anak sebagai laki-laki atau perempuan.

“Dari Ibnu Abbas ra berkata: “Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang berlagak wanita, dan wanita yang berlagak meniru laki-laki. Dalam riwayat yang lain: “Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang meniru wanita dan wanita yang meniru laki-laki“. (HR. Bukhari).

3. Membatasi pergaulan sejenis

Disamping telah memberikan aturan bagaimana bergaul dengan lawan jenis, Islam juga memberikan atauran hubungan sejenis. Terkait masalah ini, Rasulullah SAW bersabda:

”Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki, jangan pula perempuan melihat aurat perempuan. Janganlah seorang laki-laki tidur dengan laki-laki dalam satu selimut, begitu juga janganlah perempuan tidur dengan perempuan dalam satu selimut” (HR. Muslim).

Laki-laki yang melihat aurat laki-laki ataupun perempuan yang melihat aurat sesama perempuan akan terangsang. Hal ini dapat menjadi pemicu penyimpangan seksual. Apalagi kalau tidur dalam satu selimut.

4. Secara sistemik menghilangkan berbagai hal di tengah masyarakat yang dapat merangsang orang untuk melakukan homoseksual.

Saat ini banyak beredar VCD terkait dengan homoseksual. Bahkan tayangan-tayangan di televisi juga seringkali menghadirkan sosok laki-laki yang menyerupai perempuan. Di dunia maya juga berkeliaran promosi tentang itu. Dalam hal ini diperlukan kebijakan yang tegas dari Pemerintah agar masyarakat terjaga, dan anak-anak tidak terdorong untuk mencoba.

Sabtu, 07 Februari 2009

Tips Mengajar Anak Tahfizh Dalam Target


Mendidik anak sejak sejak dini adalah kewajiban kita sebagai orang tua; Karena anak adalah amanah yang Allah SWT bebankan kepada kita. Salah satunya adalah bagaimana kita mengajarkan Al-Quran kepada anak kita. Dalam hal ini kita ingin sekali anak kita dapat menghafal Al-Quran dan memulainya sedini mungkin.

Namun terkadang seorang ayah atau ibu karena belum terbiasa menghafal Al-Quran jadi agak ‘bingung’ bagaimana bisa meraih kemuliaan agar anaknya kelak bisa menghafal Al-Quran. Namun bagi orang tua yang memiliki kemampuan dan sudah terbiasa menghafal Al-Quran, maka insya Allah tidak akan mengalami banyak kesulitan dalam membimbing sang buah hati tuk meraih cita-cita mulia yaitu dapat menghafal Al-Quran.

Kita tahu bahwa belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu dan belajar di usia lanjut bagaikan mengukir di atasa air. Kita juga tau bahwa anak kecil bagaikan kaset kosong siap diisi dan menerima apa saja, yang baik ataupun yang buruk dan itu akan terekam kuat dalam memorinya. Oleh karenanya orang tua harus berusaha seoptimal mungkin dalam memanfaatkan masa ini bagi anaknya agar waktu yang ada dapat dilalui dengan berbagai aktifitas positif dan bermanfaat bagi anak di masa mendatang.


1. Jangan tergesa-gesa.

Sebagai orang tua, ketika ingin memulai mengajarkan anak menghafal Al-Quran, usahakan jangan tergesa-gesa supaya anak cepat hafal ayat atau surat yang baru satu atau dua kali dia baca. Hafalan yang baik akan didapatkan dengan cara membaca berulang kali ayat-ayat atau surat yang akan kita hafal. Paling tidak, kita dapat membacakannya minimal tujuh kali. Setelah kita merasakan ayat-ayat yang baru saja kita bacakan tadi telah melekat di dalam memori anak kita, barulah boleh pindah ke ayat atau surat berikutnya.

Mungkin tidak sedikit anak yang sudah mandiri menghafal sendiri, saat sedang menghafal Al-Quran, setelah membaca dua sampai tiga kali ayat yang akan dihafalnya, dia merasa sudah menghafalnya. Setelah itu, ia pun mencoba pindah ke ayat berikutnya karena ingin segera menghafal ayat lain, padahal dia belum menghafalnya dengan baik. Maka di sini peran seorang guru Al-Quran, dalam hal ini orang tua yang mengajarkannya di rumah agar mengarahkannya dengan baik supaya jangan pindah ke ayat lain kecuali bila diyakini si anak benar-benar telah hafal.

Menghafal dengan tergesa-gesa sebenarnya tidak dapat dibenarkan dalam proses menghafal Al-Quran. Cara menghafal demikian tidak akan membuahkan hasil yang memuaskan. Menghafal sedikit-sedikit lebih baik daripada banyak tetapi terputus dan menghafal dengan tergesa-gesa akan mengakibatkan cepat lupa.

2. Menghafal Surat Pendek

Dalam membimbing dan mengajarkan anak untuk menghafal Al-Quran, mulailah dari surat-surat pendek. Yaitu yang terdapat di dalam juz ‘amma atau juz 30. karena selain lebih mudah menjelaskan isi atau kandungan surat tersebut dalam bentuk cerita juga surat-surat pendek itu lebih sering dibaca, khususnya oleh imam shalat di masjid-masjid dan di mushalla mushalla. Sehingga anak tidak akan menghadapi banyak kesulitan ketika menghafal nanti.

3. Buat target

Dalam menghafal Al-Quran, merencanakan target tertentu tidak bisa lepas dalam proses menghafal. Walaupun sebenarnya penentuan target hafalan adalah suatu hal yang relative, karena setiap anak dalam menghafal memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Namun untuk memberikan kemudahan kepadanya dan agar lebih terarah memang harus ada perencanaan target tertentu. Maka dalam waktu sebulan hasilnya akan kelihatan berapa ayat atau surat yang akan dicapai oleh si anak. Dalam membuat target hafalan ayat atau surat yang akan dihafal usahakan jangan terlalu banyak, harus disesuaikan dengan kemampuan daya serap dan hafal si anak, sehingga anak akan merasakan bahwa menghafal Al-Quran itu mudah dan menyenangkan. Dan bila dinilai anak sudah mulai menyukai hafalan dan prestasinya bagus, maka bisa saja targetnya dinaikan. Mungkin yang tadinya ditargetkan dalam sepekan anak dapat menghafal setengah halaman misalnya, maka target itu bisa dinaikan menjadi satu halaman di bulan berikutnya.

Kalau kita ambil contoh dan pukul rata-rata bahwa setiap 1 juz Al-Quran itu berjumlah 10 lembar atau 20 halaman, maka untuk 30 juz Al-Quran berjumlah tidak kurang dari 600 halaman. Berarti bila anak dapat menghafal secara kontiniu setiap pekan satu halaman, maka dalam tempo satu tahun atau kurang lebih 48 pekan maka dia akan menghafal sebanyak 48 halaman atau sekitar 2,5 juz. Namun sekali lagi saya tegaskan bahwa dalam penentuan target hafalan adalah suatu hal yang relative dan setiap anak dalam menghafal memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Jadi bisa jadi dalam menghafal Al-Quran ada anak yang lebih cepat dari alokasi target yang baru saja kita sebutkan sebelumnya.

Jumat, 06 Februari 2009

Silaturrahmi, menumbuhkan kecerdasan sosial anak, tapi kalau anak rewel bagaimana?

Barangsiapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali silaturahmi” (HR Bukhari Muslim).

Minggu pagi...
"Yuk sayang kita jalan-jalan, yuk!" ajak ayah..
Pasti si kecil Fata bakal semangat dan mengiyakan ajakan jalan-jalan ayah

Pagi itu, ayah ma bunda pengin silaturrahim ke rumah kawan lama. Si kecil begitu menikmati perjalanan, dan memang begitulah Fata, lebih senang selama diperjalanan daripada setelah di tempat tujuan. Dan benar saja setelah sampai, Fata langsung rewel. Minta cepet2 diajak pulang, aduh...

Pada dasarnya mengajak anak silaturrahmi, mempunyai beberapa manfaat, antara lain: anak belajar sosialisasi, anak belajar mengenal tempat2 baru selain lingkungan rumah dan keluarga, anak juga belajar sopan santun dan etika bertamu, menumbuhkan kepercayaan diri anak, dan tentu saja sebagai sarana refreshing. Tapi jika anak ternyata malah rewel, nangis, bikin kekacauan, bagaimana ya?

Ada sedikit tips dari mbak Lita, agar anak tidak rewel saat diajak silaturrahmi.
1. Pastikan anak dalam kondisi nyaman
Jangankan si Fata, kita pun sebagai orang dewasa apabila berada di situasi atau kondisi tidak nyaman pasti bete atau bad mood . Ketika kita mengajak anak bertamu di cuaca yang panas dengan jarak tempuh yang jauh, belum lagi sebelum berangkat sudah dinasehati macam-macam, seperti : nanti disana gak boleh lari2, awas loh banyak pecah belah, ambil kuenya jangan banyak-banyak, kalo mau pipis bilang loh jangan ngompol dsb...dsb...ditambah suasana tempat bertamu yang memang tidak nyaman buat anak-anak seperti duduk formal, dengerin orang dewasa bicara dan tidak ada teman sebaya... jelas bukan tempat yang menyenangkan buat anak. Anak lalu rewel, minta pulang, buat kekacauan sebenarnya bisa dimaklumi...nah ada baiknya sebelum mengajak anak bertamu orangtua memperhatikan jarak tempuh terlebih dahulu, berapa lama waktu kunjungannya, lalu siapkan juga baju ganti siapa tahu disana nanti anak bermain basah2an atau kotor. Jika khawatir tidak ada teman sebaya untuk menemani anak bermain, orangtua bisa menyiapkan beberapa buku cerita atau mainan favorit anak. Nah, kalo Fata biasanya bakal nyilek (=nggak rewel) jika ada buku gambar sama pensil.

2.Persiapkan anak
Sebelum berangkat orangtua sebaiknya memberi informasi pada anak tentang tempat yang mau dikunjungi, siapa yang akan ditemui, dan apa bisa dilakukan disana. Jelaskan juga etika dan aturan yang berlaku di tempat yang akan kita datangi. Nasehat dan wejangan yang berlebihan juga sebaiknya dibatasi sehingga tidak penuh dengan ancaman.”Disana nanti kamu boleh main di halaman, tidak keluar pagar. Hiasan yang ada di ruang tamu untuk dilihat saja ya...” bukan ”nanti disana jangan keluar pagar lho, awas nanti kalau kamu pegang-pegang hiasan di ruang tamu!!”. Dengarkan juga apa yang dikhawatirkan anak di tempat bertamu nanti, lalu cari bersama solusinya. Mempersiapkan anak dengan mengajak bicara membuat anak merasa diperlakukan adil.

3. Hargai anak
Perlakukan anak sebagai individu yang sedang bertamu juga, bukan sekedar pelengkap penderita yang kita abaikan. Saat datang anak diperkenalkan ke tuan rumah (boleh menganjurkan anak untuk bersalaman, tapi tidak perlu terlalu ngotot karena bisa membuat anak menarik diri). Kalau pemilik rumah juga punya anak, akan sangat baik jika anak didukung berinteraksi dengan sebayanya. Anak juga boleh ikut berbicara, meski begitu ada baiknya juga anak diperkenalkan dengan ”waktunya bicara” dan ”waktunya mendengarkan”. Hindari menegur anak dengan intonasi keras di depan orang asing (kecil-kecil anak juga punya harga diri lho..). Jika ingin menegur anak yang lupa melepas sepatu kita bisa mendekatinya dan berbisik ”De'... sepatunya ditaruh di luar yuk..”. Merendahkan anak untuk kesopanan juga sangat tidak disarankan, misalnya ”duh maaf ya mbak.. anak saya memang nakal” kalimat seperti ini hanya akan membuat anak berpikir bahwa ia memang nakal, plus merasa tidak dihargai.
Jika ada kesempatan bagi anak untuk berbicara, maka biarkan dia berekspresi ataupun menunjukkan kecakapannya. Misalkan anak sudah hafal beberapa surat pendek dalam Al-Qur'an biarkan dia menunjukkannya. Hal ini akan melatih rasa percaya dirinya.

4. Evaluasi
Meskipun sudah dipersiapkan sesiap-siapnya, mungkin saja buah hati kita melakukan kesalahan saat bertamu. Namanya juga anak-anak. Ketulusan dan sikap bijak orang tuanyalah yang akan membantu anak untuk belajar dari kesalahannya.


Rabu, 04 Februari 2009

Temukan Cinta Terbaik

Kejujuran, ketulusan, tertawa lepas tanpa beban, tidak ada dendam, dan banyak lagi yang bisa dipelajari dari tingkah polah anak-anak. Dunia anak adalah dunia yang berisi kesederhanaan cinta. Dan ternyata, cinta yang sederhana itu adalah cinta terbaik.

Kepolosan anak bagaikan kertas putih yang siap diwarnai. Keindahan yang tertuang di kertas putih itu menjadi tanggung jawab kita sebagai orang tua. Karena anak adalah amanah, dan karena anak bisa jadi amal jariyah kita. Warnai dunia mereka dengan warna terindah, dan jadikan mereka manusia yang sholeh dan shalihah.

Minggu, 01 Februari 2009

Tips Membiasakan Anak untuk Berbuat Baik..

Teringat pertanyaan yang dilontarkan seorang kakak kelas. Beliau adalah alumni STPDN. Disiplin ada karena dipaksa atau karena biasa??? Kalau di sekolah kedinasan tersebut disiplin bisa diwujudkan karena adanya paksaan.

Lalu bagaimana cara menanamkan disiplin*) pada anak-anak. Haruskah mereka dipaksa? Penerapan disiplin pada anak-anak memang susah-susah gampang. Mungkin bisa saja kita memaksa mereka untuk berbuat disiplin, akan tetapi dampak yang diakibatkan setelahnya, pasti akan mempengaruhi kejiwaan si anak. Mereka tidak lagi melakukan pekerjaan-pekerjaannya secara sukarela, akan tetapi takut akan ancaman dan hukuman yang akan diterima akibat lalai melaksanakan pekerjaannya.

Pada dasarnya setiap anak bahkan sebagian orang dewasa sangat mengharapkan penghargaan, pujian, imbalan atas hasil kerjanya (tentunya perbuatan yang baik dong... masa mecahin piring juga layak dapat pujian?). Hal ini akan memberikan stimulus untuk terus memacu semangatnya untuk tetap berbuat baik.

Terimakasih banyak untuk mbak Dina (bunda Kirana) yang memberikan tips agar anak disiplin (menghilangkan kebiasaaan buruk). Sebenarnya idenya berasal dari Bu Teti (gurunya Kirana).

Ceritanya begini. Awalnya, Kirana pernah suka bilang, “Cape deeeeh!” Entah menirukan siapa. Pertama sih terasa lucu juga. Tapi lama-lama kok bundanya merasa kesel juga. Tiba-tiba... tanpa mbak Dina sadari kebiasaan itu hilang sendiri. Padahal beliau nggak pernah menegurnya soal ini.

Sampai suatu saat, mbak Dina yang malah bilang, “Cape deeeh!”

Kirana langsung berseru, “Hapus bintangnya!”



Usut punya usut, rupanya, kebiasaan Kirana mengucapkan “cape deh” itu hilang karena di sekolah, Bu Teti suka memberi hadiah bintang di papan tulis. Setiap perilaku baik yang dilakukan anak, dikasih satu bintang (jadi, di papan tulis digambar bintang kecil). Sebaliknya, kalau anak melalukan hal-hal yang kurang sopan, misalnya disuruh sesuatu oleh bu guru malah menjawab “cape deh”, makan sambil berdiri, naik ke meja, dll, bintang yang sudah pernah diraih si anak akan dihapus. Karena sudah menjadi ‘budaya’, maka, yang menjadi pengawas adalah anak-anak sendiri. Jika ada anak yang melakukan perilaku buruk, teman-temannya akan segera berteriak, “Hapus bintangnya!!!”

Ide memberi poin bintang ini juga saya tiru di rumah. Kalau Kirana melakukan satu kebaikan (sholat, ngaji, baca buku), dia akan mendapat satu bintang. Kalau bintangnya sudah 100, bundanya harus memberi hadiah, misalnya buku cerita atau uang buat dimasukin ke tabungan.

TING.... wah cemerlang juga idenya...

Penghargaan, pujian, imbalan sebenarnya tidak harus langsung berupa uang, makanan, mainan atau hal lain yang bersifat materi. Bahkan dengan gambar bintang di papan tulis pun sudah cukup.

Ilmu tanpa amal, bagai pohon tak berbuah... Nah, setelah dapet ilmunya, pengen euy segera dipraktekkan. Objeknya?? he he... Siapa lagi kalau bukan si kecil imut jagoan ayah, Fata...

*) disiplin dalam konteks tulisan ini berarti berbuat baik

Pesan untuk Ikhwah FiLlah

Wahai Saudaraku...

Nikah itu ibadah
Nikah itu suci, dan selalu ingatlah hal itu……
Memang nikah itu bisa karena harta, bisa karena kecantikan,
bisa karena keturunan, dan bisa karena agama.

Jangan engkau jadikan harta, keturunan,
maupun kecantikan sebagai alasan...
Karena semua itu akan menyebabkan celaka.
Jadikanlah agama sebagai alasan utama.
Insya Allah hidupmua akan bahagia

Saudaraku

Tidak dipungkiri, bahwa keluarga
terbentuk karena cinta...
Namun... jika cinta engkau jadikan
sebgai landasan, maka keluargamu akan rapuh,
dan akan mudah hancur.
Jadikanlah Allah SWT sebagai landasan
Niscaya engkau akan selamat
Tidak saja dunia, tapi juga akherat
Jadikanlah ridho Allah sebagai tujuan
Niscaya Mawaddah (kasih), Sakinah(ketentraman)
dan Rahmah (sayang) akan tercapai.

Saudaraku

Lihatlah manusia ter-agung Muhammad SAW
tidak marah ketika harus tidur di depan pintu,
beralaskan sorban, karena sang istri tercinta tidakmendengar kedatangannya.
Tetap tersenyum meski tidak mendapatkan makanan tersaji dihadapannya ketika lapar. Dan beliaupun tidak segan menjahit sendiri bajunya yang robek

Saudaraku

Jangan engkau terlalu cinta kepada istrimu
Jangan engkau terlalu menuruti istrimu
Jika itu engkau lakukan akan celaka
Engkau tidak akan dapat membedakan hitam dan yang putih,
tidak akan dapat melihat yang haq dan yang bathil
Lihatlah bagaimana Allah menegur Nabimu tatakala
mengharamkan apa yang Allah halalkan,
hanya karena menuruti kemauan sang istri.
Bersikap tegaslah terhadap isterimu

Dengan cintamu, ajaklah dia taat kepada Allah
Jangan biarkan dia dengan kehendaknya

Lihatlah bagaimana istri Nuh dan Luth
Di bawah bimbingan manusia pilihan,
justru mereka menjadi penentang.

Istrimu bisa menjadi musuhmu
Didiklah istrimu
Jadikanlah dia sebagai Hajar, wanita utama,
yang loyal terhadap tugas dakwah sang suami, Ibrahim as.
Jadikan dia sebagai Maryam, wanita utama, yang bisa menjaga kehormatannya.
Jadikan dia sebagai Khadijah, wanita utama, yang bisa mendampingi sang suami,
Muhammad saw menerima tugas risalah.

Istrimu adalah tanggung jawabmu
Jangan kau larang mereka taat kepada Allah
Biarkan mereka menjadi waniata shalilah
Biarkan mereka menjadi hajar atau Maryam
Jangan kau belenggu mereka dengan egomu

Saudaraku

Jika engkau menjadi istri
Jangan engkau paksa suamimu menurutimu
Jangan engkau paksa suamimu melanggar Allah
siapkan dirimu untuk menjadi Hajar,
yang setia terhadap tugas suami.
Siapkan dirimu untuk menjadi Maryam,
yang bisa menjaga kehormatannya.
Siapkan dirimu untuk menjadi Khadijah,
yang bisa mendampingi suami menjalankan misi.

Jangan kau usik suamimu dengan rengekan manjamu
Jangan kau usik suamimu dengan tangismu
Jika itu kau lakukan
Kecintaannya terhadapmu akan memaksanya menjadi pendurhaka jangan

Saudaraku

Jika engaku menjadi bapa
Jadilah bapak yang bijak seperti Lukmanul Hakim
Jadilah bapak yang tegas seperti Ibrahim
Jadilah bapak yang kasih seperti Muhammad saw
Ajaklah anak-anakmu mengenal Allah
Ajaklah mereka taat kepada Allah
Jadikan dia sebagai Yusuf yang berbakti
Jadikan dia sebagai Ismail yang taat
Jangan engkau jadikan mereka sebagai
Kan’an yg durhaka
Mohonlah kepada Allah
Mintalah kepada Allah,
agar mereka menjadi anak
yang shalih shalihah
Anak yang bisa membawa kebahagiaan

Saudaraku

Jika engkau menjadi ibu
Jadilah engaku ibu yang bijak, ibu yang teduh
Bimbinglah anak-anakmu dengan air susumu
Jadikanlah mereka mujahid mujahidah
Jadikanlah mereka tentara-tentara Allah
Jangan biarkan mereka bermanja-manja
Jangan biarkan mereka bermalas-malas
Siapkan mereka untuk menjadi hamba yang shalih
Hamba yang siap menegakkan Risalah Islam